Pengertian in vitro fertilization IVF

apa arti dari in vitro fertilization?Artinya adalah bayi tabung sering disingkat menjadi IVF oleh kalangan medis cek sejatinya ivf itu kayak apa prosesnya..Mungkin tidak banyak orang yang familiar dengan In vitro fertilisation (IVF), sebab istilah bayi tabung lebih kerap disebut-sebut. Nah, mengapa istilahnya bayi tabung? Ini penjelasannya.

“Karena wadahproses pembuahan bayi tabung di wadah seperti tabung. Jadi sperma dan telur disatukan di tabung. Setelah terjadi pembuahan lalu dipindah dan ditransfer ke rahim ibu,” terang embriologis dari Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit, Jakarta, Achmad Muhyiddin, S.Si dalam seminar awam kehamilan dan bayi tabung di The Bridge Function Hall, Aston Rasuna, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Senin (28/4/2014).

Metode penggunaan tabung itu menurut Achmad ‘it was so yesterday’. Sebab saat ini tidak lagi menggunakan tabung, melainkan cawan petri. Meski demikian masyarakat tidak mengganti istilah bayi tabung dengan bayi cawan.

Lalu bagaimana proses bayi tabung? Pertama-tama folikel sel telur ditumbuhkan. Setelah itu akan disedot melalui USG transvaginal sampai habis dan disimpan di tabung khusus. Kemudian akan dilakukan pengecekan apakah ada sel telur di dalamnya, jika ada maka akan ditumbuhkan di cawan. Setelah inkubasi 3-4 jam dan siap dibuahi, maka segera dilakukan proses pembuahan.

Sementara itu pada suami, sperma diambil setelah dilakukan onani. Jika ada sperma yang dihasilkan, maka bisa langsung digunakan. Tapi ada kalanya cairan ejakulasi tidak ada sperma sehingga perlu dilakukan langkah-langkah lainnya. Selanjutnya cairan palsma semen dibuang dan dilakukan pencucian beberapa kali sehingga didapat sperma yang bagus.

Untuk teknik pembuahannya bisa menggunakan IVF konvensional, di mana 1 sel telur bersama dengan 50 ribu hingga 100 ribu sperma ditaruh di cawan petri dan dibiarkan membuahi sendiri. Keesokan harinya dicek apakan sudah terjadi pembuahan atau belum. Jika pembuahan tidak bisa dilakukan sendiri, maka akan dikultur hingga hari ke-5, baru kemudian ditransfer ke rahim ibu.

Metode pembuahan lainnya adalah intracytoplasmic sperm injection (ICSI). Hal ini dilakukan jika suami hanya mempunyai sperma sedikit, bentuk tidak normal, dan motilitas tidak bagus. Caranya 1 sel sperma diinjeksi ke sel telur untuk membantu terjadinya proses pembuahan. Lalu ditaruh di cawan petri, diinkubasi sehari, jika terbuahi dalam kurun 1-5 hari maka akan ditransfer ke rahim ibu.

“Untuk menyeleksi sperma, dipilih yang terbaik atau yang memiliki DNA terbaik akan menempel di cairan asam tertentu. Nah yang nempel ini diambil, lalu disuntikkan ke telur,” tutur Achmad.

Lalau kapan sebenarnya transfer embrio dilakukan ke rahim ibu? Menurut Achmad tergantung pada perkembangan embrio. Namun secara umum di hari ke 2, 3, 4, atau ke-5, embrio bisa ditransfer. Jika embrionya berlebih maka yang bisa dibekukan akan dibekukan, dan disimpan dalam wadah dengan suhu -196 derajat Celcius. Kelak, embrio yang dibekukan ini bisa digunakan lagi jika pasutri pemilik embrio itu ingin memiliki anak lagi.

# Memilih Jenis Kelamin Bayi Lewat Bayi Tabung

Pada beberapa orang, bayi tabung dilakukan antara lain agar bisa memilih jenis kelamin bayi. Secara teknis, hal itu memang bisa dilakukan. Namun apakah selalu sukses? Sedangkan dari sisi peraturan, adakah pengaturan soal pilih-pilih jenis kelamin bayi melalui mekanisme bayi tabung ini?

“Secara teknis, hal seperti itu bisa dilakukan. Hal ini bisa dilakukan melalui pemisahan sperma yang sangat berperan. Namun, hal memilih jenis kelamin ini tetap saja tidak 100% benar, karena biar bagaimana pun juga kan ini hasil dari pekerjaan manusia, jadi ya belum tentu 100 persen tepat,” terang dr Satrio Dwi Prasojo, SpOG dari RS ASRI Duren Tiga, Jakarta Selatan, dalam perbincangan dengan detikHealth pada Rabu (12/3/2014).

Untuk etika dan peraturannya, menurut dr Satrio boleh-boleh saja karena tidak ada kebijakan khusus. Namun, saat memilih jenis kelamin harus dilihat dulu kondisinya. “Jika selama ingin melakukan pemisahan sperma dan memilih kelamin, embrio belum terbentuk, hal ini tidak apa-apa. Misalnya, jika Anda ingin punya anak laki-laki, tapi ternyata setelah diteliti ini akan menjadi anak perempuan. Nah, jika embrionya belum terbentuk, untuk dilakukan pembatalan, itu bisa saja,” paparnya.

Tapi, jika embrionya sudah terbentuk, maka hal ini tidak boleh. Karena jika embrio sudah terbentuk, artinya calon janin sudah hidup. Kalau untuk menghindari penyakit, biasanya penyakit-penyakit tersebut adalah yang bisa menurun dari orang tua ke anaknya. “Yang biasanya saya tahu itu sih penyakit kelainan darah ya,” ucap dr Satrio.

Dijelaskan dr Khairani Sukatendel, SpOG saat dihubungi terpisah, jenis kelamin janin ditentukan oleh kromosom yang ada di spermanya. Kromosom perempuan adalah XX, sedangkan kromosom laki-laki adalah XY. Nah, karena kromosom ini sepasang, jadi jika pasien ingin mempunyai anak perempuan, maka spema akan dipisahkan dan diambil yang kromosom X-nya saja untuk dimasukan ke dalam tabung yang berisi sel telur.

“Tapi jika ingin anak laki-laki, maka sperma yang dipisahkan akan diambil yang kromosom Y-nya saja. Untuk kebijakan yang mengatur pemilihan jenis kelamin ini tidak ada. Pemilihan jenis kelamin ini boleh-boleh saja. Dari aturan hukum, tidak ada yang melarang. Dan untuk aturan agama sendiri, juga tidak ada fatwa haramnya. Yang tidak boleh atau haram itu kan jika spermanya itu bukan berasal dari suaminya. Istilahnya donor sperma,” terang dr Khairani.

Kalau untuk menghindari penyakit keturunan, lanjutnya, penyakit yang biasanya dihindari adalah buta warna. Karena buta warna paling banyak dan lebih sering diderita oleh laki-laki, jadi di dalam spermanya itu ada kemungkinan yang tinggi untuk penyakit tersebut. Untuk menghindarinya, maka akan dipisahkan kromosom Y-nya, sehingga yang dimasukan ke dalam tabung berisi sel telur adalah kromosom X supaya anaknya kelak berjenis kelamin perempuan.

Dipaparkan dr Andon Hestiantoro, SpOg, Ketua Bidang Ilmiah PB POGI, hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada program bayi tabung di Indonesia
adalah :

1. Bukan pasangan suami istri yang sah.
2. Donor sperma atau donor sel telur.
3. Menggunakan sperma atau sel telur dari pasangan suami atau istri yang telah meninggal dunia atau telah bercerai.
4. Menitipkan embrio pada rahim ibu lain.
5. Sisa embrio yang tidak diperlukan lagi harus diserahkan kembali kepada pasangan orang tua pemilik embrio tersebut.

Hal yang boleh dilakukan:

a. Membekukan sel sperma, sel telur, atau embrio atas permintaan pasien.
b. Memilih jenis kelamin embrio pada kehamilan kedua dan seterusnya.yak faktor risiko yang bisa menggagalkan proses bayi tabung.

Bayi tabung atau yang biasa dikenal dengan In Vitro Fertilization (IVF) adalah proses pembuahan dibantu dengan teknik rekayasa oleh manusia dengan cara menggabungkan sel telur dan sel sperma dalam suatu kultur yang dilakukan dalam laboratorium embryologi.

“Salah satu faktor yang paling dominan adalah usia wanita, usia wanita itu sangat penting,” jelas dr Ivan Rizal Sini, MD, FRANZCOG, GDRM, SpOG, CEO Klinik Bayi Tabung Morula Indonesia, saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (12/3/2014).

Menurut dr Ivan, secara kumulatif biasanya angka keberhasilan kehamilan sekali injeksi untuk usia ibu 35 tahun ke bawah adalah 45 persen. Sedangkan untuk 2 kali injeksi, angka kumulatif setelah ikut program bayi tabung biasanya presentase keberhasilannya 70-80 persen.

Pada prinsipnya keberhasilan program bayi tabung sekitar 40-50 persen, tetapi hal ini akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Pada wanita di bawah 30 tahun peluangnya bisa mencapai 50 persen, sedangkan usia 30-35 tahun peluangnya 35 persen, usia 40 tahun keberhasilan program bayi tabung menjadi sekitar 10-15 persen, sementara di atas usia 40 tahun peluangnya tinggal 8 persen.

Selain usia, kondisi hormon saat melakukan program bayi tabung, kualitas embrio, kemampuan rahim menerima embrio juga berpengaruh terhadap keberhasilan bayi tabung.

“Kalau sekali belum berhasil jangan putus asa dulu, datang lagi sehingga dokter bisa memevaluasi apa penyebab kegagalannya,” tambah dokter sekaligus Chairman Indonesian Reproductive Science Institute (IRSI).

dr Ivan menyebutkan beberapa faktor penyebab gagalnya prosedur bayi tabung, antara lain:

1. Kualitas embrio yang tidak bagus karena pengaruh kromosom
2. Usia wanita di atas 35 tahun
3. Adanya kista, polip atau mioma
4. Adanya infeksi rongga panggul
5. Kelainan kekentalan darah.

CARI INFO Www.Indenesia.Com VIDEO YANG LEBIH HOT CEK DAN KETIK

CEK REFRESH KECEPATAN INTERNET ANDA JIKA VIDEO TAK JALAN

WWW.INDENESIA.COM