Proses pembuatan bayi tabung kayak apa sich

Proses pembuatan bayi tabung pada manusia secara lengkap dalam masa tertentu cek mengapa pembuatan bayi tabung bisa jadi solusi untuk pasangan tipe ini.Bayi tabung adalah alternatif yang bisa dipilih pasangan suami istri yang sudah lama menunggu hadirnya momongan. Kalau mau ikut program ini, bagaimana sih caranya?

Jadi awalnya klinik bayi tabung akan melakukan assessment (penilaian) pada hal mendasar, yaitu mencari tahu penyebab pasangan tidak memiliki keturunan. Selanjutnya tim dokter juga akan menanyakan apakah persoalan ini sudah teratasi ataukah belum.

Nah, kalau kata Dr dr H Amang Surya P., SpOG, di Indonesia, indikasi yang mendorong pasangan untuk melakukan bayi tabung bisa berasal dari suami maupun istri. “Peluangnya sama, 50 persen dan 50 persen,” ungkapnya dalam Grand Opening Klinik Bayi Tabung Morula IVF Surabaya di National Hospital Surabaya baru-baru ini.

Tahapan bayi tabung berikutnya adalah menentukan kualitas dari benih kedua pasangan, baik suami maupun istri. Di klinik tempatnya berpraktik, Morula IVF Surabaya, sudah ada teknologi untuk ‘menengok’ kualitas sperma dari kondisi fisiknya nih, Bun. Teknologi yang dimaksud adalah IMSI alias Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection.

“Dengan mikroskop biasa itu sperma keliatan mulus kepalanya dan hanya bisa dibesarkan 200-400 kali, tapi dengan IMSI ini pembesarannya bisa 6.000 kali. Keuntungannya, kita bisa mengambil sperma yang betul-betul bagus secara morfologi atau bentuknya,” terang dr Ali Mahmud, SpOG(K) dalam kesempatan yang sama.

Ditambahkan dr Ali, selain pria yang mengalami azoosperma atau tidak memiliki sperma sama sekali, persoalan yang paling sering ditemui dokter ketika menangani pasangan mandul adalah mereka yang bentuk spermanya kurang bagus. “Jadi kalau pakai teknologi lama itu keliatannya mulus. Tapi kalau pakai ini, begitu didekati kelihatan kepalanya bopeng-bopeng,” imbuhnya.

Ayah dan Bunda perlu tahu nih, sperma yang baik bukan hanya yang bentuknya bagus tetapi juga memiliki pergerakan atau mampu ‘berenang’ dengan cepat. Selain itu juga mampu menghasilkan embrio yang bermutu.

“Untuk memastikannya, sperma ini diambil dan dipertemukan dengan sel telur dan dibiarkan berkembang menjadi embrio. Setelah itu dilihat kromosom atau faktor genetiknya, ada kelainan nggak,” lanjut dr Ali.

Perlu kita pahami bahwa perempuan yang berusia di atas 35 tahun memiliki kemungkinan lebih besar untuk mempunyai janin dengan risiko kelainan. Untuk mengeceknya bisa digunakan teknologi bernama PGS (Pre-Implantation Genetic Screening).

Iya, Bun, teknologi ini bisa digunakan untuk mengantisipasi kelainan genetika pada bayi tabung sebelum akhirnya embrio tersebut ditanam.Tingkat keberhasilan pasangan yang menjalani IVF (in fitro vertilization) atau bayi tabung tidak hanya dipengaruhi oleh sang istri tapi dipengaruhi juga oleh usia suami. Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat pria yang lebih tua disebut memiliki peluang lebih rendah untuk menjalani program bayi tabung.

Dikutip dari BBC, peneliti Harvard mempresentasikan studi mereka tentang hampir 19.000 siklus IVF di European Society of Human Reproduction and Embryology. Temuan ini bertentangan dengan gagasan yang menyatakan bahwa kesuburan pria berlangsung selamanya.

Penelitian sebelumnya pun menunjukkan bahwa sperma yang dihasilkan oleh pria yang lebih tua lebih rentan terhadap kesalahan genetik. Selain itu hal ini juga dikaitkan dengan perkembangan autisme dan skizofrenia pada anak-anak.
Para ilmuwan menemukan bahwa pria berusia 40 sampai 42 tahun memiliki kemungkinan 46 persen lebih rendah melahirkan bayi tabung, dibandingkan dengan pria berusia 30-35 tahun saat pasangan wanita berusia di bawah 30 tahun.

Dr Laura Dodge, dari Israel Deaconess Medical Center dan Harvard Medical School, mengungkapkan bahwa belum ada alasan jelas di balik berkurangnya kesuburan pria di usia tua.

“Sementara pengaruh usia wanita terhadap kesuburan banyak disebabkan oleh meningkatnya kelainan kromosom. Sedangkan efek usia pria pada kehamilan tidak terlihat,” pungkas Dr Laura Dodge.

Dr Raj Mathur, konsultan ginekolog dan pemimpin klinis untuk obat reproduksi di Manchester Fertility juga menyampaikan bahwa masalah usia pria dan dampak pada IVF perlu diteliti lebih lanjut.”Kita harus mulai memperhitungkan usia pria,” kata Dr Raj Mathur.

Meski program bayi tabung merupakan alternatif terakhir agar pasangan suami istri bisa segera dapat momongan, tapi nggak semuanya sukses lho. Iya, program bayi tabung bisa saja menemui kegagalan lho.

Kalau kata dr Benediktus Arifin, MPH, SpOG, prosedur bayi tabung tidak menjamin seseorang pasti akan hamil, sebab kehamilan bukan hanya ditentukan oleh dokter.

“Kehamilan itu bukan hanya kita tapi juga Yang Maha Kuasa berperan. Jadi kita nggak pernah menjanjikan orang datang itu pasti hamil, nggak bisa,” tuturnya di sela-sela Grand Opening Klinik Bayi Tabung Morula IVF Surabaya di National Hospital Surabaya baru-baru ini.

Pria yang akrab disapa dr Ben itu menambahkan, berdasarkan laporan dari European Society of Human Reproduction and Embryology, angka keberhasilan prosedur bayi tabung di Eropa saja maksimal hanya 33-34 persen.

Apa penyebabnya? dr Ben bilang faktor pertama terletak pada usia pasien. Jadi makin tinggi usia pasangan, makin menurun pula angka keberhasilan bayi tabungnya.

“Kenapa kok sering gagal? Contohnya yang datang pasangan udah 14 tahun menikah, usianya di atas 40 tahun, tentu chance-nya tidak sebanyak yang lebih muda. Padahal fertility akan terus menurun seiring dengan bertambahnya umur,” urainya.

Selain itu, faktor sperma juga mempengaruhi lho. Menurut dr Ben, suami dan istri memang sama-sama berkontribusi terhadap kemandulan pasangan. Sayangnya, ketika pasangan tak kunjung mendapat momongan, biasanya yang sering diperiksakan hanya istrinya saja.

“Padahal kita harus tahu bahwa sperm problem itu menempati posisi yang 50 persen juga,” tuturnya.

dr Ben menambahkan, dilihat dari kasus kemandulan sekunder (secondary infertility) di Indonesia di mana pasangan kesulitan mendapatkan anak kedua atau berikutnya, angkanya telah mencapai 13 persen (survei WHO tahun 2010). Apalagi pada kasus kemandulan primer (primary infertility) atau ketika pasangan sulit untuk mendapatkan anak sama sekali.

Jadi Bun, jika sudah setahun menikah, tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun dan tinggal serumah, tapi tak kunjung dapat momongan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

CARI INFO Www.Indenesia.Com VIDEO YANG LEBIH HOT CEK DAN KETIK

CEK REFRESH KECEPATAN INTERNET ANDA JIKA VIDEO TAK JALAN

WWW.INDENESIA.COM